Selasa, 27 Januari 2009

Memeriksa AutoRun Registry

Autorun registry adalah suatu subkey registry (cabang syaraf) Windows yang berguna untuk menjalankan suatu program secara otomatis saat Windows dihidupkan. Jadi, jika ingin agar file X.EXE (misalnya) aktif saat Windows dihidupkan, maka kita harus menulisi subkey autorun ini dengan suatu nama value yang berisi data yang menyebutkan bahwa file X.EXE adalah file yang
harus dieksekusi. Lebih kurang begitulah… Pada bagian ini kita akan melihat beberapa cara untuk memeriksa autorun registry Windows.


1. Memakai Msconfig
Tools standar milik Windows untuk memeriksa konfigurasi autorun adalah program System Configuration Utility atau lebih dikenal dengan nama msconfig. File pengaktif program tersebut bernama msconfig.exe. Untuk memanggilnya dilakukan via perintah Run dari menu Start. Klik Start - pilih Run dan ketikkan msconfig. Tekan Enter atau klik OK.

Jendela System Configuration Utility akan muncul dan terlihat beberapa tab. Kita tidak akan membahas semuanya. Kita hanya akan berkonsentrasi pada tab Startup. Yang lain pelajari sendiri… ? Tab Startup ini berguna untuk melihat program apa saja yang akan dijalankan oleh Windows pada saat Windows diaktifkan. Ini dia! Virus biasanya akan memblokir penggunaan program ini.
Entah itu dengan mematikan pilihan Run atau memonitor caption (judul/nama) jendela program yang sedang aktif. Jika jendela ini aktif, secara otomatis virus akan segera menutupnya atau mungkin melakukan booting ulang. Terserah ama program virus.

Pada tab ini akan terlihat kolom Startup item, yang menunjukkan nama item yang akan dijalankan saat Windows diaktifkan. Juga kolom command yang biasanya berisi program yang diaktifkan plus parameternya jika ada. Sedangkan kolom Location menunjukkan lokasi subkey (syaraf) registry yang menyimpan setting data ini. Pada contoh terlihat nama ctfmon ternyata milik program yang bernama ctfmon.exe dan berada di folder d:\windows\system32. Virus biasanya akan membuat suatu nilai di sini, agar file yang memicu pengaktif programnya dijalankan saat booting Windows terjadi. Sehingga penelitian di bagian ini amat penting untuk dilakukan. Celakanya lagi, virus-virus sekarang memasangkan nama itemnya dengan nama yang “berbau-bau” nama file sistem Windows. Hal ini untuk mengelabui pemakai yang memeriksanya. Misalnya dengan nama windows.exe, svc0host.exe, rundlll.exe, dan lain sebagainya. Di sini kejelian kitalah yang menentukan sukses tidaknya mengenali file virus.
Dan ini perlu latihan…. ? Jika kita sudah menemukan item yang kita curigai, hilangkan tanda centang yang ada di depan startup item. Jika tidak dicentang, artinya item tersebut tidak akan dijalankan saat booting dilakukan. Sebaliknya, jika dicentang, maka akan dijalankan. Setelah kita melakukan proses centang dan un-centang … ? klik OK dan lakukan booting ulang agar proses pengubahan menjadi aktif.

2. Memakai Regedit
Tools standar milik Windows lainnya yang dapat dipakai untuk memeriksa konfigurasi autorun registry adalah program Registry Editor atau lebih dikenal dengan nama Regedit. File pengaktif program tersebut bernama regedit.exe. Untuk memanggilnya dilakukan via perintah Run dari menu Start. Klik Start - pilih Run dan ketikkan regedit. Tekan Enter atau klik OK.


Program registry editor akan tampil. Pergilah ke lokasi:
HKEY_LOCAL_MACHINE\SOFTWARE\Microsoft\Windows\CurrentVersion\Run
Klik ganda berulangkali pada subkey yang terlihat. Sehingga lokasi tersebut ditemukan.


Pada subkey Run inilah biasanya virus akan menuliskan nama value baru untuk mengaktifkan program virus. Untuk menghapus data yang ada, klik nama value dan tekan DEL. Wasalam … masukan akan hilang. Untuk menampilkannya lagi terpaksa kita harus mengetik ulang. .. ?? Lokasi-lokasi lain yang perlu kita periksa dalam rangka autorun registry ini adalah:
HKEY_LOCAL_MACHINE\SOFTWARE\Microsoft\Windows\CurrentVersion\Run
HKEY_LOCAL_MACHINE\SOFTWARE\Microsoft\Windows\CurrentVersion\RunOnce
HKEY_LOCAL_MACHINE\SOFTWARE\Microsoft\Windows\CurrentVersion\RunOnceEx
HKEY_CURRENT_USER\Software\Microsoft\Windows\CurrentVersion\Run
Jika ditemukan nama yang menurut Anda aneh (seperti Anda dan saya .. ?) sikat saja!!! enggak pake lama ..

3. Memakai A-squared Hijack
Cara lain untuk memeriksa registry startup ini adalah dengan memakai program a-squared Hijack. Jika kita aktifkan program ini, maka akan terlihat pada Autoruns bagian Registry. Perhatikan pada bagian All users.

Di sana akan terdapat beberapa folder yang menunjukkan subkey pada registry yang dapat dipakai untuk mengaktifkan program. Pada tampilan terlihat Run RunOnce, RunOnceEX, RunService, RunServiceOnce. Jika folder tersebut tidak grey, berarti ada isian datanya. Pada contoh, folder Run berisi tiga nama masukan. Yaitu smapp, 1A-Stardock Traymonitor, dan adobe. Jika kita ingin agar program tidak dijalankan pada saat Windows dihidupkan, maka hilangkan tanda centang yang ada di depan Name. Sebaliknya, jika kita ingin mengaktifkan program, maka harus dicentang. Untuk folder Current User menunjukkan isian bagi user yang sedang aktif. Jika kita lihat isinya, lain dengan untuk All Users.


Untuk mematikan atau menghidupkan isian dilakukan dengan cara yang sama seperti yang baru saja kita bahas. Klik kotak di depan nama value untuk menampilkan dan menghilangkan tanda centang. Jika dicentang, file tersebut akan dijalankan saat booting. Jika tidak dicentang, berarti program tersebut tidak diaktifkan pas Windows melakukan booting. Paham ‘kan?

4. Memakai CSHW
Selain dengan cara-cara di atas, kita dapat memakai jasa CSHW. Program SHW dilengkapi dengan modul CSRRE singkatan dari CyberSufi Run egistry Editor. Yang dapat diaktifkan dengan memilih FIX RUN. Coba lihat bab yang membahas CSHW. Di sana sudah saya terangkan cara pemakaian program CSRRE. Tampilan CSSRE adalah sebagai berikut.


Itulah! Beberapa tools yang dapat dipakai untuk mengendalikan masukan utorun registry. Dengan “bersihnya” bagian ini, kita telah mencegat aktifnya virus saat Windows kita hidupkan.



Read More..

Kamis, 22 Januari 2009

Cara Remove XP Service Pack 3

Klik Start > pilih Run > ketikan seperti dibawah :

c:\windows\$NtServicePackUninstall$\spuninst\spuninst.exe dan tekan Ok

Akan muncul Removal Wizard dan klik Next
Ikut arahan sehingga selesai ..

Read More..

Cara Menyimpan Aktivasi Windows

Tulisan ini tidak bermaksud untuk menggunakan software secara illegal. Cara menyimpan aktivasi Windows Anda yang akan dibahas disini tidak akan berlaku bila Anda menggunakan software bajakan dan telah melakukan perubahan hardware sebelum dan sesudah menginstal ulang Windows. Jadi intinya Anda harus tetap menggunakan software Windows original (asli) dari Microsoft dan telah melakukan aktivasi sebelumnya.

Memang sejak dikenalkannya sistem operasi Windows XP, kita setelah selesai menginstalasi Windows maka akan muncul pesan untuk segera melakukan aktivasi. Apabila pesan tersebut diabaikan maka Windows hanya akan bekerja selama 30 hari dan setelahnya akan dikunci sampai ada proses aktivasi kembali.

Proses aktivasi di Windows sebenarnya tidak menjadi masalah bila Anda memiliki koneksi internet. Namun bagi pengguna yang tidak memiliki koneksi internet maka proses aktivasi malah membikin kerepotan tersendiri karena harus melakukan aktivasi lewat telepon, yang biasanya "susah" untuk men dial nomer telpon tsb.

Nah, seandainya Anda harus melakukan instalasi ulang Windows dan harus melakukan aktivasi ulang dan tidak memiliki jaringan internet maka ada tip dibawah ini untuk menyimpan aktivasi Windows Anda.

Tahap-tahap sebelum Anda melakukan instalasi ulang Windows Anda adalah sbb:

# Buka dan jalankan Windows Explorer Anda
# Buat folder baru di drive D misal nama foldernya "backup".
# Masuk ke folder C:-WINDOWS-system32-. Bila Anda menginstal Windows di drive lain, Anda sesuaikan dengan folder tsb dengan drive yang Anda gunakan.
# Tampilkan isi dari folder system32 dengan klik Show the contents of this folder.
# Carilah file bernama wpa.dbl setelah folder system32 terbuka.
# Copy file wpa.dbl tersebut ke folder yang sebelumnya telah Anda buat yaitu di D:-backup.

Pada tahap ini Anda sudah dapat melakukan instalasi ulang Windows Anda dan setelah selesai prosesnya maka ikuti tahapan berikutnya dibawah ini:

# Restart komputer Anda dan tekan tombol [F8] pada keyboard sesaat sebelum komputer masuk ke dalam sistem operasi Windows.
# Anda pilih [Safe Mode].
# Jalankan kembali Windows Explorer setelah masuk ke Windows.
# Masuklah ke folder D:-backup, tempat file backup wpa.dbl disimpan. Copy kembali file tersebut ke folder C:-WINDOWS-system32-.
# Saat file wpa.dbl Anda Paste maka akan muncul pesan bahwa file tersebut telah tersedia pada folder system32. Klik [Yes].
# Restart Windows Anda maka Windows tidak lagi meminta untuk diaktivasi.
# Selesai



Read More..

Cara Memperkecil Ukuran File EXE


Bila Anda ingin mengirimkan file ke sahabat atau rekan Anda dengan file yang lumayan gede melalui email, apa yang terjadi...? Rekan Anda pasti akan menggerutu karena menunggu download file tersebut yang lama belum lagi kalau bandwith internetnya pas-pas an.

Aplikasi yang selama ini kita kenal memang sudah dapat untuk mengompresi file yang lumayan gede itu, namanya WinRar atau WinZip. Namun saat ini ada aplikasi yang dapat mengompresi file EXE yang lebih kecil lagi, yaitu UPX (Ultimate Packer for eXecutables). Anda tidak perlu khawatir untuk mendownload aplikasi ini karena besaran filenya yang cukup kecil.

UPX ini merupakan aplikasi yang free dan dapat mendukung 20 format file EXE. Disamping itu bersifat pula universal/umum dan portable, artinya aplikasi ini dapat digunakan tanpa harus diinstal karena ditulis dengan bahasa Portable Endian-Neutral C++. Aplikasi ini juga bersifat “extendable” yang berarti mendukung file dengan format EXE dan kompresi algoritma baru.

Bila Anda sudah mendownload aplikasi tersebut maka ekstraklah ke sebuah folder. Siapkan file EXE yang ingin dikompres dengan menyalinnya ke folder yang sama dengan aplikasi UPX. Anda harus membuka Command Prompt atau MS-DOS terlebih dahulu karena aplikasi ini berjalan melalui DOS.

Caranya adalah seperti dibawah ini:

1. Klik [Start] kemudian [Run]
2. Ketik cmd dan tekan [Enter]
3. Pada jendela Command Prompt, masuklah ke folder di mana file UPX diekstrak, misalnya folder-nya berada di drive D, ketik d: dan tekan [Enter]
4. Ketik cd diikuti dengan nama folder dan tekan [Enter] lagi. Misalnya cd UPX.
5. Ketik upx diikuti dengan nama file dan tekan [Enter]. Contoh: upx setup.exe. Tunggu hingga prosesnya selesai.

Ketika UPX dicoba mengompres file exe berukuran 8339456KB, hasilnya cukup memuaskan. Hasil kompresi berukuran 3104768 KB—hanya 37,23% dari ukuran file asli.

Bagaimana jika Anda ingin mengompres file lebih dari satu? Mudah saja, Anda dapat mengompres seluruhnya dengan cara ketik upx *.exe atau upx *.dll dan tekan [Enter], kemudian letakkan seluruh file yang hendak dikompres di 1 folder, yakni folder UPX. Agar supaya file yang sudah dikompres tidak berperformance lambat maka ekstraklah kembali dengan cara ketik perintah upx -d diikuti dengan nama file dan tekan [Enter]. Contoh: upx –d setup.exe, maka file akan berubah menjadi seperti semula.

Jangan lupa sebelum mengompres file tersebut, Anda backup terlebih dahulu. Caranya adalah ketik upx –k diikuti dengan nama file, kemudian tekan [Enter]. File kemudian akan disalin di folder upx dengan ekstensi EX~. Bila Anda ingin menggunakannya lagi, tinggal ganti saja ekstensinya menjadi EXE dengan cara Rename file tersebut.

Saat mencoba aplikasi ini masih versi 2.03 namun saat ini aplikasi tersebut sudah versi 3.03 dan dapat Anda download disini.

Read More..

Instalasi Ulang Office Tanpa Aktivasi

Seperti pada artikel sebelumnya tentang Cara Menyimpan Aktivasi Windows, maka saat Anda ingin menginstal ulang aplikasi office Anda dapat melakukan hal yang serupa. Hanya saja ada trik khusus dan bedanya ada pada lokasi dan file yang harus di backup. Trik disini bukan sebagai crack aktivasi Office Anda namun kendala yang ada misal tidak tersedianya koneksi internet dan harus melakukan dial telpon untuk minta aktivasi yang agak repot.

Perlu dicatat disini bahwa Anda harus tetap melakukan aktivasi awal saat pertama kali install Office Anda dan Anda tetap harus menggunakan aplikasi Microsoft Office yang original (Asli). Bila Anda menggunakan aplikasi bajakan maka trik disini tidak bisa dipakai.

Tahapan yang harus dilakukan adalah sbb:

1. Pada menu [Start] > [All Programs] > [Accessories] Anda pilih [Windows Explorer].
2. Buatlah sebuah folder baru untuk menyimpan file backup Anda. Bila Anda ingin melakukan backup di disket, masukkan disket Anda ke disk drive.
3. Masuklah ke folder C:-Documents and Settings>All Users>Application Data>Microsoft Office>Data.
4. Pada folder Data akan muncul dua file dengan nama data.dat dan data.bak. Copy kedua file ini ke folder yang baru Anda buat atau ke disket yang telah disiapkan.

Apabila Anda telah selesai melakukan tahapan-tahapan diatas maka Anda dapat meng-install ulang Windows dan kemudian melanjutkan dengan instalasi Office. Di akhir instalasi Office, Anda akan diminta untuk melakukan restart Windows. Sampai tahap ini Anda masih belum dapat menjalankan aplikasi-aplikasi Office karena Anda belum me-restore file aktivasi.

Tahapan berikutnya adalah sbb:

5. Jalankan PC Anda dengan Safe Mode Windows.
6. Masuklah ke folder tempat Anda mem-back-up kedua file diatas, kemudian copy kembali ke folder C:-Documents and Settings>All Users>Application Data>Microsoft Office>Data.
7. Ketika muncul konfirmasi untuk melakukan overwrite, pilihlah [Yes].
8. Tahap terakhir adalah Restart PC Anda
9. Selesai dan aplikasi-aplikasi Office Anda tidak akan meminta aktivasi untuk yang kedua kalinya.


Read More..

Rabu, 21 Januari 2009

JENIS JENIS PERAWATAN

Dalam istilah perawatan disebutkan bahwa disana tercakup dua pekerjaan yaitu istilah “perawatan” dan “perbaikan”. Perawatan dimaksudkan sebagai aktifitas untuk mencegah kerusakan, sedangkan istilah perbaikan dimaksudkan sebagai tindakan untuk memperbaiki kerusakan.

Secara umum, ditinjau dari saat pelaksanaan pekerjaan perawatan, dapat dibagi menjadi dua cara:

1. Perawatan yang direncanakan (Planned Maintenance).
2. Perawatan yang tidak direncanakan (Unplanned Maintenance).

Secara skematik pembagian perawatan bisa dilihat pada gambar berikut:

Perawatan yang direncanakan terdiri dari

A. Perawatan Preventif cakupannya :
1.Cleaning
2.Inspeksi
3.Running Maintenance
4.Shutdown

B. Perawatan Korektif cakupannya :
1.Shutdown

2.Breakdown
2.1.Minor Overhaul
2.1.Mayor Overhaul

Perawatan Tak Direncanakan :
1.Emergency Maintenance

Bentuk-bentuk Perawatan

1. Perawatan Preventif (Preventive Maintenance)
Adalah pekerjaan perawatan yang bertujuan untuk mencegah terjadinya kerusakan, atau cara perawatan yang direncanakan untuk pencegahan (preventif).

Ruang lingkup pekerjaan preventif termasuk: inspeksi, perbaikan kecil, pelumasan dan penyetelan, sehingga peralatan atau mesinmesin selama beroperasi terhindar dari kerusakan.

2. Perawatan Korektif
Adalah pekerjaan perawatan yang dilakukan untuk memperbaiki dan meningkatkan kondisi fasilitas/peralatan sehingga mencapai standar yang dapat diterima.
Dalam perbaikan dapat dilakukan peningkatan-peningkatan sedemikian rupa, seperti melakukan perubahan atau modifikasi rancangan agar peralatan menjadi lebih baik.

3. Perawatan Berjalan
Dimana pekerjaan perawatan dilakukan ketika fasilitas atau peralatan dalam keadaan bekerja. Perawatan berjalan diterapkan pada peralatan-peralatan yang harus beroperasi terus dalam melayani proses produksi.

4. Perawatan Prediktif
Perawatan prediktif ini dilakukan untuk mengetahui terjadinya perubahan atau kelainan dalam kondisi fisik maupun fungsi dari sistem peralatan. Biasanya perawatan prediktif dilakukan dengan bantuan panca indra atau alat-alat monitor yang canggih.

5. Perawatan setelah terjadi kerusakan (Breakdown Maintenance)
Pekerjaan perawatan dilakukan setelah terjadi kerusakan pada peralatan, dan untuk memperbaikinya harus disiapkan suku cadang, material, alat-alat dan tenaga kerjanya.

6. Perawatan Darurat (Emergency Maintenance)
Adalah pekerjaan perbaikan yang harus segera dilakukan karena terjadi kemacetan atau kerusakan yang tidak terduga.

Disamping jenis-jenis perawatan yang telah disebutkan diatas, terdapat juga beberapa jenis pekerjaan lain yang bisa dianggap merupakan jenis pekerjaan perawatan seperti:

1. Perawatan dengan cara penggantian (Replacement instead of
maintenance)
Perawatan dilakukan dengan cara mengganti peralatan tanpa dilakukan perawatan, karena harga peralatan pengganti lebih murah bila dibandingkan dengan biaya perawatannya. Atau alasan lainnya adalah apabila perkembangan teknologi sangat cepat, peralatan tidak dirancang untuk waktu yang lama, atau banyak komponen rusak tidak memungkinkan lagi diperbaiki.

2. Penggantian yang direncanakan (Planned Replacement)
Dengan telah ditentukan waktu mengganti peralatan dengan peralatan yang baru, berarti industri tidak memerlukan waktu lama untuk melakukan perawatan, kecuali untuk melakukan perawatan dasar yang ringan seperti pelumasan dan penyetelan. Ketika peralatan telah menurun kondisinya langsung diganti dengan yang baru. Cara penggantian ini mempunyai keuntungan antara lain, pabrik selalu memiliki peralatan yang baru dan siap pakai.

Istilah-istilah yang umum dalam perawatan:

1. Availability:
Perioda waktu dimana fasilitas/peralatan dalam keadaan siap untuk dipakai/dioperasikan.

2. Downtime:
Perioda waktu dimana fasilitas/peralatan dalam keadaan tidak
dipakai/dioperasikan.

3.Check: Menguji dan membandingkan terhadap standar yang ditunjuk.

4.Facility Register
Alat pencatat data fasilitas/peralatan, istilah lain bisa juga disebut inventarisasi peralatan/fasilitas.

5. Maintenance management:
Organisasi perawatan dalam suatu kebijakan yang sudah disetujui bersama.

6. Maintenance Schedule:
Suatu daftar menyeluruh yang berisi kegiatan perawatan dan kejadian-kejadian yang menyertainya.

7. Maintenance planning:
Suatu perencanaan yang menetapkan suatu pekerjaan serta metoda, peralatan, sumber daya manusia dan waktu yang diperlukan untuk dilakukan dimasa yang akan datang.

8. Overhaul:
Pemeriksaan dan perbaikan secara menyeluruh terhadap suatu fasilitas atau bagian dari fasilitas sehingga mencapai standar yang dapat diterima.

9.Test:
Membandingkan keadaan suatu alat/fasilitas terhadap standar yang dapat diterima.

10. User: Pemakai peralatan/fasilitas.
11. Owner: Pemilik peralatan/fasilitas.
12. Vendor: Seseorang atau perusahaan yang menjual peralatan/perlengkapan, pabrik-pabrik dan bangunan-bangunan.

13. Efisiensi: Running Hours /Running Hours + Down Time
14. Trip: Mati sendiri secara otomatis (istilah dalam listrik).
15. Shut-in: Sengaja dimatikan secara manual (istilah dalam pengeboran minyak).
16. Shut-down: Mendadak mati sendiri / sengaja dimatikan.

Strategi Perawatan

Pemilihan program perawatan akan mempengaruhi kelangsungan produktivitas produksi pabrik. Karena itu perlu dipertimbangkan secara cermat mengenai bentuk perawatan yang akan digunakan terutama berkaitan dengan kebutuhan produksi, waktu, biaya, keterandalan tenaga perawatan dan kondisi peralatan yang dikerjakan.

Dalam menentukan strategi perawatan, banyak ditemui kesulitankesulitan diantaranya:

1.Tenaga kerja yang terampil
2.Ahli teknik yang berpengalaman
3.Instrumentasi yang cukup mendukung
4.Kerja sama yang baik diantara bagian perawatan

Faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan strategi perawatan:

1.Umur peralatan/mesin produksi
2.Tingkat kapasitas pemakaian mesin
3.Kesiapan suku cadang
4.Kemampuan bagian perawatan untuk bekerja cepat
5.Situasi pasar, kesiapan dana dan lain-lain.



Read More..

Business Process Reengineering

Business Process Reengineering

Robert Janson dalam Institute of industrial Engineers (1993:49) mendefinisikan reengineering sebagai pembaharuan proses dalam organisasi secara radikal yang banyak digunakan perusahaan untuk memperbaharui komitmen mereka terhadap pelayanan kepada pelanggannya. Fokus utamanya adalah membuat perbaikan disegala bidang dalam pelayanan organisasi, contohnya sumber daya manusia, proses kerja, dan teknologi. Reengineering menolong perusahaan melewati rintangan sistem kerja yang tidak mendukung pencapaian
tingkat kepuasaan pelanggan.

Michael Hammer dan James Champy menyatakan bahwa Business Process Reengineering (BPR) adalah: "Pemikiran dan perancangan ulang suatu sistem bisnis secara mendasar
(fundamental) dan radikal untuk mendapatkan perbaikan secara dramatis pada saat kritis, dengan mengukur kinerja saat ini melalui elemen-elemen biaya, kualitas, pelayanan dan kecepatan." Definisi ini adalah salah satu definisi yang paling sering dipakai dan dapat ditemukan dalam berbagai jurnal dan artikel ilmiah. Dalam definisi dari Michael Hammer diatas, terdapat empat kata kunci yaitu fundamental, radikal, dramatis dan proses (Indrajit,2002: 69).

1. Fundamental
Dalam melakukan proses reengineering dua pertanyaan mendasar yang akan ditujukan adalah : Mengapa perusahaan berbuat seperti apa yang perusahaan perbuat? dan Mengapa perusahaan berbuat dengan cara seperti yang perusahaan kerjakan sekarang? Jika pertanyaan fundamental ini diajukan, maka akan memaksa pelaku bisnis untuk menggunakan asumsi dan aturan tak tertulis yang mendasari bisnis mereka, seringkali asumsi atau aturan ini keliru dan tidak tepat.
Pertanyaan yang harus diajukan bukan "Apa yang sudah dikerjakan?" , tetapi "Bagaimana seharusnya dikerjakan?" . Jawaban atas pertanyaan fundamental akan melahirkan juga sesuatu yang fundamental, yaitu tindakan perubahan yang fundamental. Reenginering berarti memulai sesuatu dari awal, tanpa asumsi dan pertama menentukan apa yang harus dilakukan oleh perusahaan kemudian bagaimana cara melakukannya.

2. Radikal
Radikal diserap dari bahasa latin "radix" yang berarti akar. Desain radikal dari proses bisnis berarti mendesain ulang sesuatu sampai ke akarnya, tidak memperbaiki prosedur yang sudah ada dan berusaha melakukan optimasi. Menurut Hammer, desain radikal berarti mengabaikan seluruh struktur dan prosedur yang sudah ada dan menemukan cara baru yang benar-benar berbeda dengan sebelumnya dalam menyelesaikan pekerjaan. Reengineering bukan merupakan business improvements, atau business enchacement, atau pun business modification, tetapi mengenai business reinvention.

3. Dramatis
Reengineering bukanlah suatu usaha mencapai perbaikan sedikit demi sedikit dan bertahap yang bersifat marginal atau incremental, tetapi merupakan usaha mencapai lompatan besar dalam perbaikan dan peningkatan performansi perusahaan.Tiga jenis perusahaan yang memerlukan reengineering adalah sebagai berikut:

a. Perusahaan yang berada dalam kesulitan besar,
b. Perusahaan yang belum mengalami kesulitan, tetapi mengantisipasi akan mengalami kesulitan, dan
c.Perusahaan yang tidak mengalami kesulitan, tetapi justru berada pada puncak kerjanya.

4.Orientasi Proses
Orientasi pada proses merupakan kata kunci terpenting dalam definisi BPR, tetapi merupakan hal yang memberikan kesulitan besar bagi para manajer. Kebanyakan pelaku bisnis tidak berorientasi pada proses, tetapi pada tugas, pekerjaan, orang, dan struktur.

Read More..

What is Total Productive Maintenance?

The modern view of maintenance is that it is all about preserving the functions of physical assets. In other words, carrying out tasks that serve the central purpose of ensuring that our machines are capable of doing what the users want them to do, when they want them to do it. The possible maintenance policies can be grouped under four headings viz.

1. Corrective - wait until a failure occurs and then remedy the situation (restoring the asset to productive capability) as quickly as possible.

2. Preventive - believe that a regular maintenance attention will keep an otherwise troublesome failure mode at bay.

3. Predictive - rather than looking at a calendar and assessing what attention the equipment needs, we should examine the 'vital signs' and infer what the equipment is trying to tell us. The term 'Condition Monitoring' has come to mean using a piece of technology (most often a vibration analyser) to assess the health of our plant and equipment.

4. Detective - applies to the types of devices that only need to work when required and do not tell us when they are in the failed state e.g. a fire alarm or smoke detector. They generally require a periodic functional check to ascertain that they are still working.

Apart from detective maintenance, the central problem that companies have struggled with is how to make the choice between the other three. This has led to the increasing interest within industry in two strategies, which offer a path to long term continuous improvement rather than the promise of a quick fix. These are Reliability Centred Maintenance (RCM) and Total Productive Maintenance (TPM). The two strategies, although having similar names, actually have very different strengths. RCM has been fully described while TPM will now be discussed.
TPM is a manufacturing led initiative that emphasises the importance of people, a 'can do' and 'continuous improvement' philosophy and the importance of production and maintenance staff working together. It is presented as a key part of an overall manufacturing philosophy. In essence, TPM seeks to reshape the organisation to liberate its own potential.

The modern business world is a rapidly changing environment, so the last thing a company needs if it is to compete in the global marketplace is to get in its own way because of the way in which it approaches the business of looking after its income generating physical assets. So, TPM is concerned with the fundamental rethink of business processes to achieve improvements in cost, quality, speed etc. It encourages radical changes, such as;
• flatter organisational structures - fewer managers, empowered teams,
• multi-skilled workforce,
• rigorous reappraisal of the way things are done - often with the goal of simplification.

It also places these changes within a culture of betterment underpinned by continuous improvement monitored through the use of appropriate measurement. The principal measure is known as the Overall Equipment Effectiveness (OEE). This figure ties the 'six big losses' :
1. Equipment Downtime
2. Engineering Adjustment
3. Minor Stoppages
4. Unplanned Breaks
5. Time spent making reject product
6. Waste
to three measurables:

Availability (Time), Performance (Speed) & Yield (Quality).
When the losses from Time X Speed X Quality are multiplied together, the resulting OEE figure shows the performance of any equipment or product line.
TPM sites are encouraged to both set goals for OEE and measure deviations from these. Problem solving groups then seek to eliminate difficulties and enhance performance.
TPM achievements

Many TPM sites have made excellent progress in a number of areas. These include:
• better understanding of the performance of their equipment (what they are achieving in OEE terms and what the reasons are for non-achievement),
• better understanding of equipment criticality and where it is worth deploying improvement effort and potential benefits,
• improved teamwork and a less adversarial approach between Production and Maintenance,
• improved procedures for changeovers and set-ups, carrying out frequent maintenance tasks, better training of operators and maintainers, which all lead to reduced costs and better service,
• general increased enthusiasm from involvement of the workforce.

However the central paradox of the whole TPM Process is that, given that TPM is supposed to be about doing better maintenance, why do proponents end up with (largely) the same discredited schedules that they had already (albeit now being done by different people)? This is the central paradox - yes, the organisation is more empowered, and re-shaped to allow us to carry out maintenance in the modern arena, but we're still left with the problem of what maintenance should be done.

The RCM process was evolved within the civil aviation industry to fulfil this precise need. In fact, the definition of RCM is "a process used to determine the maintenance requirements of physical assets in their present operating context". In essence, we have two objectives; determine the maintenance requirements of the physical assets within their current operating context, and then ensure that these requirements are met as cheaply and effectively as possible.

RCM is better at delivering objective one; TPM focuses on objective two.
Can the techniques be deployed together?
The answer depends on what 'brand' of RCM is being considered. The 'hired gun' or 'magic box' approach will never be compatible with TPM. RCM must be performed by the organisation itself. The sole focus must be to teach organisations to analyse their own assets. In this way, empowered teams remain empowered, ownership is retained and enhanced and companies begin to win the asset management battle.
Your company can also benefit from TPM. Our 2 day TPM seminar will show you exactly how. http://www.maint2k.com/what-is-tpm.html




Read More..

Selasa, 20 Januari 2009

Enterprise Asset Management


Enterprise Asset Management Enterprise Asset Management dulunya dikenal dengan nama CMMS CMMS merupakan system terintegrasi yang mencatat hal-hal yang berkaitan dengan maintenance, dalam CMMS dicatatkan : Nama Asset/mesin, daftar pekerjaan Maintenance (Planned & Unplann ed Maintenance), history pemakaian sejak pembelian, history kerusakan, total biaya yang dikeluarkan, sparepart yang dibutuhkan untuk sebuah mesin, stok spare part yang ada, sampai menghitung nilai MTBF (Mean Time Between Failure)& MTTR (Mean Time To Repair).

CMMS juga bisa terintegrasi dengan system lain, seperti ERP pada manufaktur dalam hal ini integrasi dengan data output mesin yang tercatat di ERP sehingga pada output tertentu mesin harus di maintain (servis, ganti spare part, dll), data pembelian spare part, jurnal accounting, dll. Pada hakikatnya CMMS, seperti namanya, adalah sistem yang mendayagunakan komputasi (Data base sistem) untuk melakukan management aktifitas maintenance asset organisasi. Untuk itu tentu hal pertama yang harus dilakukan untuk menerapkan CMMS adalah : 1. standarisasi sistem registrasi asset.Mulai dari asset sistem service (misal kompressor service unit, power generation unit), 2. equipment unit, maintanable unit sampai spare part. 3. Selain itu asset man power resources juga teresgiter dalam data base CMMS, 4. spesial tool yang tersedia, dsb nya. Kemudian setelah itu tentu adalah sistem management pekerjaan yang biasanya berupa work order flow process yang mengatur bagaimana suatu alur pekerjaan maintenance harus di jadwalkan, rencanakan, eksekusi ataupun di tunda di"pasang" pada CMMS sehingga pekerjaan maintenance dapat diatur/di manage dengan baik. Work order flow biasanya juga dilengkapi dengan Standar Operating Procedure atau sejenisnya sebagai guidance untuk melakukan pekerjaan dalam suatu jenis work order. dalam SOP tersebut biasanya dicantumkan spesial tool yang diperlukan, jenis human resources nya, prekiraan man hour, spare part yang diperlukan, consumable item, dll. Berbekal data-data tersebut maka diharapakan pekerjaan maintenance dapat di"atur" dan di jadwalkan POST http://www.blogger.com/post-create.do HTTP/1.0dan di rencanakan dengan baik serta pekerjaan un planed dan unscheduled serta backlog dapat ditekan. Selain itu tentu akan sangat membantu (tidak selalu tersedia module nya) bila CMMS juga dapat menyimpan data histori asset, run time tracker (untuk melihat reliability dan availability asset), dan dapat ber"komunikasi" dengan ERP perusahaan.Adapun poduknya sangat banyak mulai dari yang sederhana seperti CWork, hingga MAXIMO, 7I (Data stream dahulu), JDE atau SAP.



Read More..

Maintenance Planning #1

Dalam merencanakan maintenance sebuah unit khususnya alat-alat berat dan alat pendukungnya ada beberapa hal yang harus dilakukan agar dalam pelaksanaannya dapat berjalan sesuai dengan perencanaan tersebut. Hal yang harus kita ketahui dan dipenuhi diantaranya:

  1. Umur unit
  2. Hampir semua unit baru sekarang yang digunakan di perusaahaan umumnya sudah memiliki penunjuk jam penggunaan atau Hour Meter. Masing-masing jenis unit akan memiliki interval service yang berbeda tergantung daripada petunjuk dari vendor atau dari engineering masing-masing perusahaan. Misalnya per 250 jam, 500 jam, 1000 jam, dst

  3. Umur komponen
  4. Umur komponen dalam hal ini ada tipe yang mempunyai interval/ frekuensi waktu penggantian dan ada yang berdasarkan kondisinya atau tidak memiliki batas waktu yang ditentukan.

    Misalnya sebuah unit CAT789 menggunakan engine sampai 20000 jam maka akan berbeda dengan penggantian Track dozer yang kadang tidak diberi interval waktu penggantian.

  5. Ketersediaan Part/komponen
  6. Pada waktu merencanakan perbaikan / maintenance sebuah unit maka sudah pasti membutuhkan part atau bahan. Misal dari oli, filter sampai pada komponen yang direncanakan diganti. Jadi jauh hari sebelum dilaksanakan service part/ komponen yang dibutuhkan hendaknya sudah disediakan.

  7. Kerusakan umum/ operasional
  8. Disamping perbaikan yang memang sudah terjadwal sudah pasti akan ada kerusakan-kerusakan pada unit selama pengoperasian baik yang bersifat minor atau major. Pada akhirnya bila ada suatu komponen yang telah dijadwalkan diganti pada interval waktu tertentu tetapi sudah rusak sebelum waktunya hal ini akan mengurangi produktivitas dari unit tersebut dan harus ada investigasi lebih lanjut mengenai kerusakan tersebut sehingga dapat di-reduce untuk waktu-waktu berikutnya dan pada unit lainnya.

  9. Dokumentasi jenis kerusakan
  10. Hal yang sudah pasti adalah semua jenis kerusakan pada sebuah unit baik yang bersumber dari laporan operator atau hasil inspeksi mekanik dapat direcord pada sebuah database khusus yang nantinya akan bisa diikutkan pada planning maintenance berikutnya termasuk untuk persiapan pengorderan part yang dibutuhkan.

  11. Alat dan Personil

Diatas semua tidak akan bisa berjalan dengan baik apabila tidak dikung dengan peralatan (Tool) dan sumberdaya manusia yang kompeten baik dari segi kelayakan alat, kesehatan, safety dalam bekerja serta skill personel yang mamadai sehingga akan tercapai hasil optimal dalam pelaksanaannya.





Read More..

Maintenance Planning # 2

Menyambung artikel sebelumnya akan lebih detail lagi dijelaskan proses maintenance planning pada sebuah unit.

Sekurang-kurangnya seminggu sebelum sampai pada hari H pelaksanaan semua yang akan dilakukan dan part yang dibutuhkan harus sudah disiapkan yaitu filter kit yang digunakan sampai part yang akan di ganti pada unit tersebut. Untuk mendapatkan itu semua setidaknya kita sudah ada dokumentasi kerusakan lain pada service sebelumnya, hasil inspeksi kurang lebih seminggu sebelumnya, laporan-laporan operator (Untuk unit bergerak) dan mengorder part yang dibutuhkan. Hasil analisa SOS (Oil analysis) pada saat service sebelumnya juga menjadi referensi untuk pelaksanaan service.



Semua data diatas dilist mana yang akan kita lakukan perbaikan pada saat service dan menyiapkan semua perlengkapannya. Kadang kendalanya ketika part yang dibutuhkan tidak ada pada saat hari pelaksanaannya maka kita harus re-schedule untuk dikerjakan pada service berikutnya.

O..ya harus saya jelaskan kalau saya saat ini bukan seorang planner tetapi hanya sebagai assisten saja tetapi dengan ini saya berharap bisa dapat masukan dari semua pembaca sekalian sehingga bisa menambah ilmu saya. Bisa saja prosedur yang saya kemukakan akan berbeda dengan pelaksanaan di perusahaan lain tapi intinya tetap sama merencanakan sebuah pekerjaan agar pelaksanaannya dapat berjalan dengan baik sesuai dengan durasi waktu yang dialokasikan sehingga efektifitas dan efisiensinya tercapai.

Saya ada referensi dari http://ft.unsada.ac.id/wp-content/uploads/2008/04/bab3-rwt.pdf mengenai jenis perawatan (maintenance)

Dalam istilah perawatan disebutkan bahwa disana tercakup dua pekerjaan yaitu istilah “perawatan” dan “perbaikan”.

Perawatan dimaksudkan sebagai aktifitas untuk mencegah kerusakan, sedangkan istilah perbaikan dimaksudkan sebagai tindakan untuk memperbaiki kerusakan.

Bentuk-bentuk Perawatan (Maintenance)

1. Perawatan Preventif (Preventive Maintenance)

Adalah pekerjaan perawatan yang bertujuan untuk mencegah terjadinya kerusakan, atau cara perawatan yang direncanakan untuk pencegahan (preventif).

Ruang lingkup pekerjaan preventif termasuk: inspeksi, perbaikan kecil, pelumasan dan penyetelan, sehingga peralatan atau mesin-mesin selama beroperasi terhindar dari kerusakan.

2. Perawatan Korektif

Adalah pekerjaan perawatan yang dilakukan untuk memperbaiki dan meningkatkan kondisi fasilitas/peralatan sehingga mencapai standar yang dapat diterima.

Dalam perbaikan dapat dilakukan peningkatan-peningkatan sedemikian rupa, seperti melakukan perubahan atau modifikasi rancangan agar peralatan menjadi lebih baik.

3. Perawatan Berjalan

Dimana pekerjaan perawatan dilakukan ketika fasilitas atau peralatan dalam keadaan bekerja. Perawatan berjalan diterapkan pada peralatan-peralatan yang harus beroperasi terus dalam melayani proses produksi.

4. Perawatan Prediktif

Perawatan prediktif ini dilakukan untuk mengetahui terjadinya perubahan atau kelainan dalam kondisi fisik maupun fungsi dari sistem peralatan. Biasanya perawatan prediktif dilakukan dengan bantuan panca indra atau alat-alat monitor yang canggih.

5. Perawatan setelah terjadi kerusakan (Breakdown Maintenance)

Pekerjaan perawatan dilakukan setelah terjadi kerusakan pada peralatan, dan untuk memperbaikinya harus disiapkan suku cadang, material, alat-alat dan tenaga kerjanya.

6. Perawatan Darurat (Emergency Maintenance)

Adalah pekerjaan perbaikan yang harus segera dilakukan karena terjadi kemacetan atau kerusakan yang tidak terduga.

Disamping jenis-jenis perawatan yang telah disebutkan diatas, terdapat juga beberapa jenis pekerjaan lain yang bisa dianggap merupakan jenis pekerjaan perawatan seperti:

1. Perawatan dengan cara penggantian (Replacement instead of maintenance)

Perawatan dilakukan dengan cara mengganti peralatan tanpa dilakukan perawatan, karena harga peralatan pengganti lebih murah bila dibandingkan dengan biaya perawatannya. Atau alasan lainnya adalah apabila perkembangan teknologi sangat cepat, peralatan tidak dirancang untuk waktu yang lama, atau banyak komponen rusak tidak memungkinkan lagi diperbaiki.

2. Penggantian yang direncanakan (Planned Replacement)

Dengan telah ditentukan waktu mengganti peralatan dengan peralatan yang baru, berarti industri tidak memerlukan waktu lama untuk melakukan perawatan, kecuali untuk melakukan perawatan dasar yang ringan seperti pelumasan dan penyetelan. Ketika peralatan telah menurun kondisinya langsung diganti dengan yang baru. Cara penggantian ini mempunyai keuntungan antara lain, pabrik selalu memiliki peralatan yang baru dan siap pakai.





Read More..